Header Ads

Stress Akademik


Berbagai definisi mengenai stres telah dikemukakan oleh para ahli dalam setiap disiplin ilmu dengan versinya masing-masing mulai dari ilmu biologi, psikologis hingga ilmu-ilmu sosial seperti antropologi dan sosiologi. Namun dalam berbagai definisi stress tersebut pada dasarnya antara satu definisi dengan definisi lainnya terdapat inti persamaannya (Aldwin, 2007).
Jika ditinjau dari fisiologis, tokoh yang terkenal dalam pendekatan ini yang secara khusus membahas tentang stress adalah Hans Selye, dan sering disebut bapak teori stress modern. Selye mendefinisikan stres sebagai ‘the nonspesific response of the body to any demand‘ yang artinya suatu respons tubuh yang nonspesifik dari berbagai tuntutan. Bila seseorang mengalami stres dia akan mengalami gangguan pada satu atau lebih organ tubuh sehingga yang bersangkutan tidak lagi dapat menjalankan fungsi pekerjaannya dengan baik (Cooper, 2004; Kavanagh, 2005; Aldwin, 2007).
Seyle (dalam Cooper, 2004) membagi stres menjadi dua tipe area yaitu eustres dan distres.Eustres adalah pengalaman stres yang menyenangkan, yang biasanya muncul ketika seseorang mendapatkan kesuksesan dan kemenangan. Eustress dapat meningkatkan kesiagaan mental, kewaspadaan, kognisi, dan performansi individu. Eustress juga dapat meningkatkan motivasi individu untuk menciptakan sesuatu, misalnya menciptakan karya seni. Distres adalah pengalaman stres yang menyakitkan atau tidak menyenangkan yang sifatnya mengancam. Dalam hal ini stres dirasakan sebagai suatu keadaan dimana individu mengalami rasa cemas, ketakutan, khawatir, atau gelisah, sehingga individu mengalami keadaaan psikologis yang negatif, menyakitkan, dan timbul keinginan untuk menghindarinya. Stres merupakan hal yang penting bagi kehidupan. Oleh karena itu, stress perlu dikelola dengan baik agar stres yang dirasakan bisa membawa dampak positif bagi perkembangan individu dalam kehidupannya.
Tokoh lain yang memusatkan penelitiannya tentang stres adalah Lazarus. Lazarus merupakan tokoh yang meninjau stress dari respon psikologis. Menurut Lazarus & Folkman (dalam Aldwin, 2007; Cooper, 2004) stres adalah keadaan internal yang dapat diakibatkan oleh tuntutan fisik dari tubuh (kondisi penyakit, latihan, dll) atau oleh kondisi lingkungan dan sosial yang dinilai potensial membahayakan, tidak terkendali atau melebihi kemampuan individu untuk melakukan coping. Lebih lanjut Lazarus menjelaskan bahwa stress terjadi akibat dari ketidak sesuaian antara harapan dan kenyataan. Artinya, stress merupakan reaksi psikologis terhadap tuntutan hidup yang tidak sesuai dengan harapan dan membebani kehidupan seseorang serta menggangu kesejahteraan hidupnya (Smith, 1993).
Lazarus (1984) menjelaskan bahwa stres juga dapat diartikan sebagai : (1) Stimulus, yaitu stres merupakan kondisi atau kejadian tertentu yang menimbulkan stres atau disebut juga dengan stresor. (2) Respon, yaitu stres merupakan suatu respon atau reaksi individu yang muncul karena adanya situasi tertentu yang menimbulkan stres. Respon yang muncul karena adanya situasi tertentu yang menimbulkan stres. Respon yang muncul dapat secara fisiologis, seperti : jantung berdebar, gemetar dan pusing serta psikologis, seperti : takut, cemas, sulit berkonsentrasi dan mudah tersinggung. (3) Proses, yaitu stres digambarkan sebagai suatu proses dimana individu secara aktif dapat mempengaruhi dampak stres melalui strategi tingkah laku, kognisi maupun afeksi.
Lazarus (Cooper, 2004; Kavanagh, 2005) membedakan stress atas tiga tipe penilaian, yaitu harm-loss, threat, dan challenge. Harm-loss mengacu pada besarnya kerusakan yang sudah terjadi, penilaian terhadap kerusakan mungkin menghasilkan kemarahan, kemuakan, ketidak puasan, atau kesedihan. Threat mengacu pada pengharapan atas abhaya yang akan datang. Penilaian terhadap ancaman mungkin akan menimbulkan kekhawatiran, kecemasan dan kekuatan. Challenge mengacu pada kesempatan untuk mencapai pertumbuhan, penguasaan suatu bidang atau keuntungan dengan menggunakan lebih dari faktor-faktor rutin untuk memenuhi kebutuhan. Penilaian terhadap tantangan mungkin menimbulkan kegembiraan atau antisipasi.
Berdasarkan berbagai definisi diatas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa stres adalah keadaan yang disebabkan oleh adanya tuntutan internal (fisik) maupun eksternal (lingkungan, dan situasi sosial) merupakan stimulus yang dapat membahayakan, tidak terkendali atau melebihi kemampuan individu sehingga individu akan bereaksi baik secara fisiologis maupun secara psikologis (respon) dan melakukan usaha-usaha penyesuaian diri terhadap situasi tersebut (proses).
Jika dikaitkan dengan psikologi perkembangan siswa pada tingkat MA yang berada pada masa remaja stress yang dihadapi berapa kesulitan akademik (stress dalam mengelola waktu belajar,/strategi belajar dan cemas menghadapi ujian), konflik dengan teman sebaya, konflik dengan guru, dan konflik dengan orang tua (Smith, 1993). Hal ini juga sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Elias (2011) pada 376 siswa di Malaysia yang membuktikan bahwa sebagian besar sumber stress remaja berasal dari masalah akademik, terlebih pada siswa tingkat pertama.
Shahmohammadi (2011) dalam acara 2nd Word Conference On Psychology, Counseling And Guidance menyatakan bahwa stres di bidang akademik pada anak muncul ketika harapan untuk pencapaian prestasi akademik meningkat, baik dari orang tua, guru ataupun teman sebaya dan harapan tersebut tidak sesuai dengan kemampuannya. Dari hasil penelitiannya Shahmohammadi menyimpulkan bahwa penyebab stress dikalangan siswa karena (1) takut tidak mendapatkan tempat di perguruan tinggi (2) ujian sekolah (3) terlalu banyak konten yang dipelajari (4) jadwal sekolah yang terlalu padat. Semua stress ini terkait dengan masalah akademik.
Stres akademik diartikan sebagai tekanan-tekanan yang dihadapi anak berkaitan dengan sekolah, dipersepsikan secara negatif dan berdampak pada kesehatan fisik , psikis dan performansi belajarnya (Campbell & Svenson, 1992; Ng Lai Oon, 2004). Stress akademik yang dialami siswa berkaitan dengan (1) tekanan akademik (bersumber dari guru, mata pelajaran, metode mengajar, strategi belajar, menghadapi ulangan/diskusi kelas) dan (2) tekanan sosial (bersumber dari teman-teman sebaya siswa). Stress yang dialami siswa selanjutnya akan berpengaruh pada fisik dan aspek psikologisnya yang akan mengakibatkan terganggunya proses belajarnya (Namara, 2001).
Stres belajar yang dialami siswa terjadi bukan semata-mata berasal dari faktor eksternal (lingkungan sekolah dan orang tua), namun faktor internal juga mempengaruhi timbulnya stres belajar, yaitu bagaimana siswa mempersiapkan sekolah (Chan, 1998; Haywood, 2004).
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa stres akademik merupakan respon siswa terhadap berbagai tuntutan akademik dan dipersepsikan siswa sebagai beban melebihi batas kemampuan yang ditandai dengan berbagai reaksi yang mempengaruhi fisik, emosi dan perilaku.
Artikel ditulis oleh Khairul Bariyyah Sumber: http://konselingkita.com

Tidak ada komentar

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.